aku akan menceritakan dongeng itu untuk kalian.
februari lalu, tepat pada hari kamis, aku berulang tahun. dari pagi, aku sudah menanti pesan singkat darinya. tapi pesan singkat itu tak kunjung datang. ah, tak apa, hari kamis memang hari sibuknya. akan ku tunggu hingga larut malam. biasanya dia akan menelepon ku pada malam hari. jam 9 malam berlalu, tak juga ada tanda-tanda dari dia. jam 10 malam berlalu, juga tak ada tanda-tanda dari dia. aku sudah mulai mengantuk. tapi aku berusaha untuk tidak tertidur. aku berusaha dengan kuat untuk menahan kantuk ku. hingga tepat pada jam 12 malam, kantuk ku sudah tidak tertahan lagi. aku tertidur dalam keadaan tetap menggenggam handphone di tangan kanan ku. pada pagi harinya saat aku terbangun, ku kira dia sudah mengirim ucapan selamat ulang tahun, tapi ternyata tidak. aku masih tetap bersabar menunggu hingga sekitar jam 3 sore. tapi ternyata ia tetap tak mengirimkan pesan singkat untuk ku. aku mulai kesal, jengkel, marah, sedih, semua perasaan itu mulai bercampur menjadi satu. pada hari sabtunya, aku tidak berharap banyak agar dia mengucapkan selamat ulang tahun pada ku. sabtu malam, aku memutuskan untuk mengunci diri di dalam kamar. ingin rasanya menangis sejadi-jadinya karena sampai detik itu ia tak kunjung mengucapkan selamat ulang tahun kepada ku. tepat pada jam 10 malam, saat aku sudah siap untuk tertidur, handphone ku berbunyi. ku raih handphone ku dan ku lihat siapa yang malam-malam begini telepon. dia. ya, pacar ku lah yang menelepon ku. antara senang dan kecewa bercampur menjadi satu. segera ku angkat telepon itu. dia sama sekali tak merasa bersalah. haha, aku benar-benar tak mengerti tentang jalan pikirannya. malam itu akhirnya kami bertengkar hebat. pertengkaran malam itu sudah dapat di tebak bukan apa endingnya? ya, kata putus lah yang akhirnya terucap. sejujurnya, aku tak pernah berfikir tentang kata itu. aku memang kecewa dan marah padanya, tapi aku sama sekali tak menginginkan hubungan ini berakhir. tapi..dia terlalu cuek, terlalu tak peka untuk mengetahui apa yang aku inginkan. sudah lah, toh dia yang menginginkan hubungan ini berakhir. dia juga sudah tak peduli lagi dengan ku. jangan kan peduli, menganggap ku pun sekarang sudah tidak. lantas untuk apa aku masih mengharapkannya kembali? lupakan lah saja! move on! yang lalu biarlah berlalu.
februari lalu, tepat pada hari kamis, aku berulang tahun. dari pagi, aku sudah menanti pesan singkat darinya. tapi pesan singkat itu tak kunjung datang. ah, tak apa, hari kamis memang hari sibuknya. akan ku tunggu hingga larut malam. biasanya dia akan menelepon ku pada malam hari. jam 9 malam berlalu, tak juga ada tanda-tanda dari dia. jam 10 malam berlalu, juga tak ada tanda-tanda dari dia. aku sudah mulai mengantuk. tapi aku berusaha untuk tidak tertidur. aku berusaha dengan kuat untuk menahan kantuk ku. hingga tepat pada jam 12 malam, kantuk ku sudah tidak tertahan lagi. aku tertidur dalam keadaan tetap menggenggam handphone di tangan kanan ku. pada pagi harinya saat aku terbangun, ku kira dia sudah mengirim ucapan selamat ulang tahun, tapi ternyata tidak. aku masih tetap bersabar menunggu hingga sekitar jam 3 sore. tapi ternyata ia tetap tak mengirimkan pesan singkat untuk ku. aku mulai kesal, jengkel, marah, sedih, semua perasaan itu mulai bercampur menjadi satu. pada hari sabtunya, aku tidak berharap banyak agar dia mengucapkan selamat ulang tahun pada ku. sabtu malam, aku memutuskan untuk mengunci diri di dalam kamar. ingin rasanya menangis sejadi-jadinya karena sampai detik itu ia tak kunjung mengucapkan selamat ulang tahun kepada ku. tepat pada jam 10 malam, saat aku sudah siap untuk tertidur, handphone ku berbunyi. ku raih handphone ku dan ku lihat siapa yang malam-malam begini telepon. dia. ya, pacar ku lah yang menelepon ku. antara senang dan kecewa bercampur menjadi satu. segera ku angkat telepon itu. dia sama sekali tak merasa bersalah. haha, aku benar-benar tak mengerti tentang jalan pikirannya. malam itu akhirnya kami bertengkar hebat. pertengkaran malam itu sudah dapat di tebak bukan apa endingnya? ya, kata putus lah yang akhirnya terucap. sejujurnya, aku tak pernah berfikir tentang kata itu. aku memang kecewa dan marah padanya, tapi aku sama sekali tak menginginkan hubungan ini berakhir. tapi..dia terlalu cuek, terlalu tak peka untuk mengetahui apa yang aku inginkan. sudah lah, toh dia yang menginginkan hubungan ini berakhir. dia juga sudah tak peduli lagi dengan ku. jangan kan peduli, menganggap ku pun sekarang sudah tidak. lantas untuk apa aku masih mengharapkannya kembali? lupakan lah saja! move on! yang lalu biarlah berlalu.
haha, cerita itu terdengar sangat konyol bukan? tapi itu adalah cerita nyata. itu adalah cerita ku. cerita terbodoh dalam perjalan cinta ku. aku berharap hanya aku lah satu-satunya makhluk hidup yang merasakan hal sebodoh itu, jangan kalian.
0 komentar:
Posting Komentar