terimakasih. beribu-ribu ungkapan terimakasih untuk mu. untuk mu yang telah membawa ku lari dari zona masa lalu. zona masa lalu yang membuat ku terpuruk belakangan ini. zona masa lalu yang enggan terlepas dalam benak ku. bahkan masa lalu yang selalu bergelantungan bak benalu yang siap menggerogoti otak ku.
terimakasih. kedatangan mu membawa pikiran baru bagi ku. kedatangan mu membuat ku terlepas dari zona masa lalu. kedatangan mu mampu membuat aku menatap hari dengan senyuman. kedatangan mu menimbulkan pelangi dalam setiap detik hidup ku.
terimakasih. terlebih karena kedatangan mu mampu menggeser "namanya" menjadi "namamu".
terimakasih. terimakasih banyak.
tau kah kau, setiap detik dalam hidup ku mengalun begitu indah berkat kehadiran mu. dunia ku yang telah hampir pudar, kembali bersinar berkat kehadiran mu. kau bangkitkan dunia ku, kau bangkitkan jiwa ku, kau bangkitkan semangat ku. terlebih, kau bangkitkan senyuman ku.
kau tau, betapa susahnya aku berjuang sendirian untuk menghapus "namanya" dari otak ku? aku berjuang mati-matian untuk menghapus nama itu dari otak ku. berjuang sekian lama hingga menghabiskan banyak detik hanya untuk melupakannya. tapi kau dengan mudahnya datang lalu menghapus "namanya" dari otak ku. kau begitu santai melakukannya, seakan itu adalah hal ringan yang semua orang mampu melakukannya.
entah sihir apa yang telah kau gunakan, aku tak tau. mungkin ini lah yang di namakan sihir cinta.
ah, rasanya terlalu cepat jika mengatakan ini adalah cinta.
atau mungkin aku yang terlalu takut untuk menyadari perasaan ku kepada mu. takut akan pemikiran kita yang tak sejalan. takut aku hanya akan di anggap teman oleh mu. takut hanya aku yang terlalu berharap lebih dengan mu.
kamu? ya kamu! bolehkah aku bertanya tentang perasaan mu? perasaan mu terhadap ku? apakah percakapan kita selama ini dapat di katakan sebagai cinta? atau mungkin hanya seorang teman? ya teman biasa.
jika kau baca tulisan ini, jawab lah pertanyaan ku.
tau kah kau aku begitu gelisah mengira-ngira apa jawaban yang mungkin kau lontarkan ketika aku menanyakan hal ini pada mu. tapi mana berani aku bertanya hal seperti itu pada mu. aku malu. aku pengecut. atau lebih tepatnya aku takut kehilangan mu hanya gara-gara aku salah bertanya. aku tak mau. aku tak mau kehilangan mu. daripada harus kehilangan mu, lebih baik aku pendam dalam-dalam perasaan ini. jika ada yang bertanya bukankah memendam rasa sayang itu sakitnya bukan main, jawabannya adalah iya, ini memang sakit. tapi setidaknya tidak terlalu sakit daripada harus kehilangan mu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar